Muhri Fauzi: GBPU Sekedar Menyegarkan Ingatan Masyarakat Tentang Hakikat Politik

Penggagas Gerakan Bunuh Politik Uang (GBPU), Muhri Fauzi Hafiz mengungkapkan, sesungguhnya aksi ini merupakan salah satu upaya menyegarkan ingatan masyarakat bahwa politik sejatinya, usaha setiap warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

“Dalam politik, ada muatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara, yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Jadi, politik itu tidak semata untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan saja”,ujar Muhri Fauzi, Kamis (12/12/2019).

Tapi, lanjut Muhri Fauzi, ketika semua pihak beranggapan bahwa politik hanya sebagai upaya untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan, maka di situlah muncul politik transaksional ataupun politik uang.

“Kondisi seperti ini akan dimanfaatkan pihak yang berambisi mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan, meskipun pihak tersebut sesungguhnya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memimpin. Hal ini tentu berimbas negatif terhadap berbagai pembangunan masyarakat”, ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, politik uang sesungguhnya melumpuhkan kemampuan politik masyarakat secara luas, sehingga hakikat politik tersebut tergerus oleh nilai-nilai transaksional. “Politik sesungguhnya merugikan masa depan bangsa dan negara ini ke depannya”, tambahnya.

Penulis Bunuh Politik Uang itu, mengaku tidak ambil pusing terhadap pihak-pihak yang pesimis dengan Gerakan Bunuh Politik Uang tersebut. Muhri Fauzi menyadari, sikap pesimistis tersebut muncul, karena politik transaksional telah mendarahdaging di tengah-tengah masyarakat.

“Menghapus politik uang yang sudah mendarahdaging tersebut bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh perjalanan yang teramat panjang. Makanya melalui buku Bunuh Politik Uang, saya berupaya menyegarkan ingatan masyarakat tentang hakikat sesungguhnya politik tersebut”, ujarnya.

Muhri Fauzi mengakui, dirinya telah membagi-bagikan buku Bunuh Politik uang ini kepada masyarakat yang memang meminatinya, sehingga tidak tersisa lagi. Namun, dia mengakui kembali mencetak buku tersebut, mengingat banyaknya permintaan dari berbagai masyarakat.

“Saat ini ada sekira 500 buku dalam proses cetak yang nantinya akan diserahkan ke sekretariat Gerakan Bunuh Politik Uang, untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang sudah memesan. Umumnya, mereka yang berada di daerah Pilkada serentak 2020, di Sumut”, ujarnya.

Muhri Fauzi menambahkan, sebenarnya permintaan buku tersebut lebih dari 500. Namun, untuk sementara ini dirinya hanya mencetak 500 saja terlebih dahulu.

“Mudah-mudahan, jika ada kelapangan rezeki, saya akan mencetaknya lagi. Paling tidak memenuhi permintaan masyarakat yang namanya sudah terdaftar di sekretariat GBPU”, ujarnya.(***)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*