Pengusutan Kasus Pencabulan Anak dan KDRT di Polres Sergai Lamban

Happy warga Jalan Cempaka No.14  Lingkungan  Pekan I Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Perbaungan berkunjung di DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol No.5 Medan, Senin (4/3).

Raut wajah sedih Happy yang sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga berniat berkunjung ke dewan untuk mengadukan nasibnya kepada dewan.

Ditemani ibunya Phek Miau, Happy menceritakan peristiwa pilu dialami atas perbuatan suaminya Johan Wijaya alias Asing 43 tahun. Happy mengatakan, suaminya telah memperlakukan dia tidak seperti istri lainnya. Ia kerap mendapat perlakuan kasar. Ia pernah dipukul dan tidak diberikan belanja oleh suaminya Johan.

Awalnya, Happy sempat mengalah, belakangan Ia tidak tahan atas perbuatan suaminya Johan. Ia pun melaporkan kejadian yang dialamiya ke Polres Serdang Bedagai (Sergai). Laporan yang dibuatnya sudah beberapa kali. Mulai dari pengeroyokan secara bersama-sama, memudian Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Namun Johan tetap aman.

Anehnya, perilaku Johan semakin menjadi-jadi. Belakangan Happy melaporkan Johan Wijaya ke Polres Sergai karena diduga melakukan pencabulan terhadap anak kandungnya sendiri yang masih di bawah umum inisal JW.

Diketahui kejadian naas yang menimpa JW terjadi sudah tahun 2017. Namun baru dilaporkan tanggal 24 Januari 2019.

“Kejadian yang saya alami sangat menyedihkan.  Anak saya perempuan bernama JW mendapat perlakukan yang tidak senonoh dari Johan Wijaya alias Asing yang tidak lain adalah ayahnya sendiri,” kata Happy di ruang komisi A DPRD Sumut.

Diceritakan Happy, menurut pengakuan anaknya JW, ayahnya telah melakukan perbutan tak senonoh. Namun karena diancam anaknya JW takut memberitahu kepada ibunya. Namun karena didesak, akhirnya JW menceritakan sebenarnya dan lansung membuat laporan ke Polres Serdang Bedagai.

“Saya melaporkan perbuatan itu ke Polres Serdang Bedagai tanggal 28 Januari 2019. Namun, hingga sekarang belum ada jawaban dari Polres Sergai. Laporan saya itu sudah diterima oleh Kanit 2 SPKT SIF Sinaga dan yang menerima laporan Riki Gustiawan. Namun sampai sekarang surat Nomor LP/40/I/2019/SU/Res Sergai sekira pukul 15.09 belum ada mendapat jawaban,” ucapnya sedih.

Happy juga menceritakan perlakuan suaminya Johan Wijaya kepada dirinya. Tanggal 20 Desember 2018 lalu ia mengalami KDRT.

“Saya juga mendapat perlakuan kasar dari Johan Wijaya. Kepala saya dibuat ke dinding. Kemudian Ia melemparkan kursi kepada saya. Badan saya banyak yang memar,” katanya.

Tak hanya itu, tanggal 21 Desember 2018 lalu Happy juga melaporkan Jeffri mertua laki 66 tahun, Chan Gwek Oen, 61 tahun mertua perempuan dan Suhadi Wijaya alias Awi 39 Tahun abang ipar Suhadi Wijaya, karena turut melakukan kekerasan bersama-sama kepada Happy.

“Mereka melakukan kekesaran kepada saya secara bersama-sama. Namun sampai sekarang kasusnya belum diproses,” ungkapnya.

Terakhir, lanjutnya,Phek Miau 53 tahun alamat Jalan Perbatasan Komplek Deli Baru Desa Bakaran Batu, Kecamatan Lubuk Pakam Deliserdang telah melaporkan Suhadi dkk attas tindak pidana pengrasakan gembok dan sarang kunci pintu rumah.

Mereka dilaporkan kata Heppy ada “Happy dirugikan 75 juta. Makanya saya Phek Miau melaporkan persoalan tersebut ke Polsek Perbaungan. Namun sampai sekarang hasilnya juga tidak ada,” ungkapnya.

Happy berharap persoalan ini harus segera dituntaskan oleh Polres Serdang Bedagai dan Polsek Perbaungan.”

Saya takut bang, karena diteror terus sama mereka. Saya juga merasa kasihan terhadap anak-anak saya yang sampai saat ini tidak bisa sekolah karena masalah ini,” pintanya.

Kasat Reskrim Polres Sergai AKP Alex Piliang dikonfirmasi soal laporan Happy tersebut, Alex mengatakan dirinya sudah pindah 2.5 bulan lalu ke Tapanuli Selatan (Tapsel).

“Coba konfirmasi ke Kasat Sergai pak AKP Sisworo. Saya sudah 2,5 bulan pindah ke Tapsel,” ucapnya.(***)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*